Olahraga, sejak zaman kuno, tak lepas dari perhatian para filsuf. Bagi Aristoteles, tubuh yang sehat adalah syarat bagi pikiran yang sehat—sehingga olahraga dianggap bagian dari pendidikan yang ideal. Plato juga menekankan pentingnya pelatihan fisik dalam membentuk warga negara yang harmonis. Dalam filsafat Timur seperti Konfusianisme dan Zen, gerak tubuh dipandang sebagai jalan menuju keseimbangan batin. Memasuki abad ke-20, para pemikir seperti Michel Foucault menyoroti olahraga dalam konteks kontrol tubuh dan disiplin sosial. Di era digital kini, filsuf kontemporer melihat olahraga sebagai ruang baru untuk identitas, performativitas, dan kapitalisme—misalnya lewat eksploitasi tubuh dalam industri hiburan atau pencitraan atlet di media sosial. Olahraga tak lagi netral, melainkan sarat makna budaya, politik, dan ekonomi. Melalui lensa filsafat, kita memahami bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan cermin peradaban, ideologi, dan zaman yang terus berubah.
timehulu-stg.joystickinteractive.com
http://ffm.cdn3.optimizely.com/index.html